Pernah gak abis nonton film, trus mikir, “Pengin banget ke sana”? Mungkin kamu langsung membuka Google Maps, mengecek harga tiket, atau diam-diam manifesting untuk menjadikannya tempat liburan kelak. Saya sendiri mengalaminya setelah menonton Eternal Sunshine of the Spotless Mind, ingin sekali rasanya ke Pantai Montauk.
Kamu tidak sendirian. Griffith Observatory di Los Angeles menjadi tujuan penggemar setelah tampil di La La Land. Di tempat itu, Sebastian Wilder (Ryan Gosling) dan Mia Dolan (Emma Stone) menari lalu melayang di ruang planetarium. Hal serupa terjadi di Venice, Italia, yang kebanjiran penggemar setelah muncul di Spider-Man: Far From Home, saat Peter Parker (Tom Holland) ikut karyawisata sekolah ke sana. Indonesia pun punya daftarnya sendiri: Belitung lewat Laskar Pelangi, Gunung Semeru lewat 5 cm, Via Via Resto di Yogyakarta lewat Ada Apa dengan Cinta 2 (AADC 2), sampai Gereja Ayam di Magelang yang tampil di film yang sama.
Para peneliti pariwisata menamai gejala ini film-induced tourism, yaitu perjalanan wisata yang dipicu oleh film (Busby & Klug, 2001). Lokasinya tidak harus tempat syuting asli. Bisa juga tempat yang menjadi latar cerita. Esai ini melihat apa yang terjadi di Indonesia ketika film membuat sebuah tempat mendadak terkenal, dan bagaimana dampaknya bagi destinasi maupun warga yang tinggal di sana. Argumen saya sederhana: antusiasme penonton adalah modal pariwisata yang berharga, tetapi ia baru bermanfaat jika dikelola.
Di Indonesia, fenomena ini ramai dibicarakan sejak Laskar Pelangi (2008) mengangkat Belitung dan 5 cm (2012) membuat Semeru dipenuhi pendaki. Sejak itu, setiap film dengan lanskap memikat memunculkan pertanyaan yang sama: akankah tempat ini jadi destinasi berikutnya? Dua kajian Indonesia yang terbit belakangan memberi gambaran cukup rinci tentang apa yang terjadi sesudahnya.
Mulai dari Gereja Ayam di Magelang. Bangunan berbentuk burung di Bukit Rhema ini hanya tampil sekitar lima setengah menit dalam AADC 2, tetapi dampaknya terasa lama. Fauziah, Sutikno, dan Priyambodo (2021) mewawancarai pengelola, pelaku usaha, ketua kelompok sadar wisata (Pokdarwis), dan sekretaris desa. Menurut pengelola, sebelum film hari biasa hanya dikunjungi lima sampai sepuluh wisatawan nusantara dan sekitar dua puluh wisatawan asing. Setelah film tayang pada 28 April 2016, hari biasa bisa melewati seratus orang, dan banyak yang datang untuk napak tilas jejak syuting, termasuk anak muda dari Malaysia. Perlu dicatat bahwa angka ini adalah ingatan narasumber, bukan data resmi, karena tiket baru mulai dijual pada tahun itu juga. Catatan resmi yang tersedia adalah tahun 2019. Dari Januari sampai November 2019, Gereja Ayam dikunjungi 56.658 wisatawan nusantara dan 7.638 wisatawan mancanegara, atau sekitar 64 ribu orang. Tiga tahun setelah filmnya tayang, tempat itu masih ramai.
Dampaknya tidak berhenti pada angka kunjungan. Menurut para informan, ramainya pengunjung membuat dinas pariwisata meminta data kunjungan, sehingga tiket mulai diberlakukan pada 2016 dan badan usaha pengelola dibentuk setahun kemudian. Pokdarwis Desa Karangrejo disahkan pada 2016 dan, kata ketuanya, mendapat pendampingan dari lembaga swadaya masyarakat setelah film tayang. Warga yang dulu bertani atau membuat batu bata mulai beralih menjadi pemandu, pembatik, dan penjual kuliner. Satu informan memperkirakan sekitar 30 persen warga kini bergerak di pariwisata, dan sekitar enam belas pemilik warung disebut membuka usaha setelah lokasi itu ramai. Di tingkat kota, dua penelitian mahasiswa yang dikutip Fauziah dkk. memperkirakan kunjungan ke Yogyakarta, tempat lebih dari 70 persen adegan AADC 2 diambil, naik sekitar 10 persen di kalangan wisatawan yang termotivasi film. Semua ini bersumber dari wawancara di satu lokasi, jadi ia adalah gambaran yang kaya, bukan bukti yang bisa digeneralisasi.
Semeru punya cerita yang mirip, dengan sisi gelap yang lebih tebal. Ananda dkk. (2025) mengutip pemberitaan 2013 yang menyebut kenaikan kunjungan hingga 300 persen setelah 5 cm rilis pada akhir 2012. Namun tabel dalam artikel yang sama menyebut kenaikan sekitar 30 persen, dari kisaran 400 ribu kunjungan pada 2012 menjadi 579.132 pada 2013. Dua angka itu tidak cocok, dan tabelnya juga tampak mencampur total kunjungan dengan jumlah pendaki. Jadi pengaruh film terhadap Semeru hampir pasti nyata, tetapi seberapa besar belum bisa dipastikan dari data ini.
Harga dari lonjakan itu muncul di jalur pendakian. Menurut unggahan akun Instagram @jejakpendaki yang dikutip Ananda dkk., sampah di Ranu Kumbolo mencapai enam ton dalam empat hari, pada 15 sampai 18 Agustus 2013. Angka ini bersumber dari media sosial, bukan laporan resmi, sehingga perlu diperlakukan hati-hati. Kajian yang sama menghimpun laporan lain tentang erosi jalur, coretan di batu dan papan penunjuk arah, pemotongan vegetasi untuk api unggun, dan puntung rokok menyala yang dibuang sembarangan di kawasan Ranu Kumbolo dan Kalimati, di dalam taman nasional yang daya dukungnya terbatas. Pendakian sempat ditutup pada 2014 karena cuaca buruk sekaligus untuk memulihkan ekosistem. Ananda dkk. mencatat bahwa promosi lewat film jarang disertai edukasi etika pendakian.
Masalahnya tidak selalu soal sampah. Kasus rumah yang dikenal sebagai “rumah Milea” di kawasan Malabar, Lengkong, Bandung, dipakai syuting Dilan 1990 dan sejak 2018 tak pernah sepi pengunjung. Per Agustus 2024, di depannya terpasang spanduk kuning besar yang melarang orang berfoto. Menurut laporan detikJabar, warga sekitar menginginkan spanduk itu dan pemilik rumah, Tin dan Penny, menyetujuinya (Aurellia, 2024). Alasannya, pengunjung parkir sembarangan, menghalangi jalan, dan nongkrong sambil berisik. Pedagang kaki lima mulai berdatangan, lalu sampah makanan menumpuk di depan rumah warga. Pagar rumah, yang berstatus bangunan cagar budaya golongan B, sering dinaiki dan diduduki sampai rusak. Tin harus memperbaikinya beberapa kali. Anggrek di taman belakang juga habis setelah rumah dipinjam untuk syuting. Tin kini menolak tawaran syuting baru, padahal antreannya masih panjang. Ia hanya ingin tenang. Menurut Tin, rumah itu biasa saja (Aurellia, 2024).
Menurut saya, risiko lain yang patut diwaspadai adalah komersialisasi berlebihan yang mengikis keaslian budaya lokal dan ketergantungan pada momen viral tanpa strategi jangka panjang. Ketika film dilupakan, wisatawan ikut menghilang. Menjadi lokasi film pun tidak otomatis mendatangkan wisatawan. (Fauziah dkk., 2021) mencatat bahwa banyak destinasi keliru berasumsi bahwa menjadi lokasi syuting pasti menguntungkan. Ironisnya, di balik setiap lokasi ikonik ada warga yang tinggal, bekerja, dan mencari ketenangan di sana, dan merekalah yang paling merasakan akibatnya ketika antusiasme penonton tak terkelola.
Dari Belitung, Semeru, Via Via Yogyakarta, Gereja Ayam Magelang, sampai Rumah Milea, film telah membuktikan diri sebagai alat promosi pariwisata yang kuat. Tantangannya kini bukan lagi sekadar membuat film yang bagus, melainkan memastikan lokasinya tidak hanya viral, tetapi juga lestari. Lokasi di film mungkin kekal di layar, tetapi di dunia nyata, lingkungan butuh perawatan, kebijakan, dan visi jangka panjang.
Daftar Pustaka4 sumberBukaTutup
Ananda, D. T., Rosyada, A. A., Abadi, E. Z. H., Nami, F. R., Alfarelia, A. S., Permata, A. A. C., & Wiyata. (2025). Analisis dampak penayangan film 5 cm sebagai media komunikasi terhadap sektor pariwisata di kawasan Gunung Semeru. TUTURAN: Jurnal Ilmu Komunikasi, Sosial dan Humaniora, 3(2), 188–202. https://doi.org/10.47861/tuturan.v3i2.1845
Aurellia, A. (2024, 6 Agustus). 5 fakta asal-usul spanduk larangan berfoto di “Rumah Milea” Dilan. detikJabar. https://www.detik.com/jabar/wisata/d-7475430/5-fakta-asal-usul-spanduk-larangan-berfoto-di-rumah-milea-dilan
Busby, G., & Klug, J. (2001). Movie-induced tourism: The challenge of measurement and other issues. Journal of Vacation Marketing, 7(4), 316–332.
Fauziah, A., Sutikno, B., & Priyambodo, T. K. (2021). Dampak film AADC2 terhadap peningkatan kunjungan wisatawan di Gereja Ayam. Prosiding Pendidikan Teknik Boga Busana, 15(1). https://jurnal.uny.ac.id/index.php/ptbb/article/view/36484





